perkembangan pariwisata di lombok selatan
Masyarakat lokal menyebutnya Pantai Tangsi, meski nama ini kian
terkubur oleh sebutan Pantai Pink. Disebut pink karena pasirnya berwarna
putih bercampur serpihan terumbu karang warna merah. Jika terkena air
laut, dan sinar matahari sore atau pagi, butiran-butiran pasir halusnya
berubah warna menjadi merah muda. Kabarnya, di dunia ada tujuh pantai
yang pasirnya berwarna merah muda seperti di Bahama, se- dangkan di
Indonesia ada juga di Pulau Komodo.
Adapun nama Tangsi
dikarenakan seputar kawasan itu, seperti Pantai Tanjung Ringgit—
berhadapan dengan Samudra Indonesia, atau 1 kilometer tenggara Pantai
Pink—dijadikan markas tentara Jepang dalam Perang Dunia II.
Adanya
meriam di Pantai Tanjung Ringgit sekitar 1 kilometer dari Pantai Pink
ini, ataupun goa dengan lorong yang menembus perut bukit sepanjang
sekitar 50 meter yang berhadapan dengan Pantai Pink, adalah bukti yang
memperkuat bahwa sekitar wilayah itu sebagai barak militer tentara Dai
Nippon. Artinya berwisata ke Pantai Pink selain menyaksikan panorama
alam pesisirnya yang ”tampil beda” sekaligus melakukan wisata sejarah.
Pantai
Pink di Lombok Timur ini bertetangga dengan beberapa pantai di
kiri-kanannya, seperti Pantai Temeak dan Pantai Colong yang juga
berpasir putih. Mereka dipisahkan oleh bukit karang sehingga untuk
mengunjungi dua pantai ini cukup berjalan kaki dan mendaki bukit itu.
Hanya saja, beberapa kawasan pesisir itu justru sudah ”dikuasai” para
pemilik modal.
Dari atas tebing itu, wisatawan umumnya
menyaksikan panorama alam laut lepas, degradasi warna air laut, ditambah
serakan gumpalan awan yang berarak, membuat suasana sepi pantai terasa
sangat romantis.
Malah belum sah rasanya ke Pantai Pink kalau Anda tidak mandi.
-- Iswan Rahmadi
Lanskapnya yang datar cocok untuk berkemah. Air
lautnya yang jernih mengundang hasrat untuk mandi. ”Malah belum sah
rasanya ke Pantai Pink kalau Anda tidak mandi,” kata Iswan Rahmadi,
Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa
Tenggara Barat, berpromosi.
Tapak pantainya pun lumayan lebar
dengan panjang dari ujung timur ke barat sekitar 500 meter. Bila
berjemur di atas pasirnya yang halus laksana tidur di atas kasur empuk.
Asalkan cuaca cerah, Anda bisa menyaksikan Gunung Rinjani yang berada di
utara pantai itu.
Fasilitas terbatas
Lantaran
fasilitas dan transportasi umum ke Pantai Pink belum tersedia sebaiknya
menyewa mobil atau sepeda motor dari Mataram. Perjalanan Mataram-Pantai
Pink ditempuh 2,5 jam. Fasilitas akomodasi pun masih minim, meski kalau
mau menginap ada beberapa bungalo yang dikelola pemodal, berjarak
sekitar 4 kilometer dari pantai ini, dengan tarif 185 dollar AS (Rp 1,7
juta) per malam.
Lebih baik juga membawa bekal sendiri karena di
sana tidak ada warung. Kalau sekadar mau minum, ada warga setempat
menyediakan minuman air mineral, atau kopi saset, maupun mi instan.
Kepala
Dinas Pariwisata Lombok Timur, Gufran mengatakan, Pemkab Lombok Timur
menganggarkan dana untuk pengadaan fasilitas, perbaikan jalan agar
memudahkan akses bagi wisatawan yang melancong ke Pantai Pink.
Terbatasnya
angkutan ditopang pula oleh buruknya jalan sepanjang 14 km mulai dari
jalan utama ke pantai tersebut. Jalan aspalnya mengelupas, menampakkan
”keasliannya”: jalan tanah, berlubang, bergelombang, disertai sejumlah
tanjakan. Jalan yang melintasi kawasan hutan lindung Sekaroh ini berdebu
saat kemarau. Ketika musim hujan, jalan bertanah liat ini di beberapa
tempat menjadi ”bubur”, bak monster yang melumat roda kendaraan sehingga
”jalan di tempat”.